Text
MEMO KEMANUSIAAN
Puisi menjadi bagian dari hidup saya. Puisi adalah ungkapan dari pikiran, perasaan, dan imajinasi seseorang. Puisi, bagi saya, bukan hanya sebuah karya sastra dari ungkapan dan perasaan saya, tapi lebih dari itu, sudah “mendarah daging". Bicara puisi sama halnya bicara tentang hidup saya karena sepanjang hidup saya yang sekarang sudah setengah abad lebih selalu dipenuhi puisi.
Bahkan, puisi, bagi saya, tak hanya karya ekspresi semata-mata, tapi juga dapat menyampaikan pesan kemanusiaan. Sebagaimana judul yang disandang buku puisi, yakni Memo Kemanusiaan.
Jejak proses kreatif saya dalam menulis puisi bisa dikatakan mewarnai masa-masa indah di sekolah. Masa-masa “kawah candradimuka”, pengemblengan dan pencarian jati diri. Sungguh saya bersyukur bisa menyalurkan bakat dan kemampuan dengan puisi.
Saya mulai menulis puisi sejak duduk di kelas 4 sekolah SD Negeri 03 desa Jatibogor, Suradadi, Tegal. Puisi-puisi awal ini saya kumpulkan dalam buku stensilan berjudul Nyanyian Sebelum Matahari Terpejam yang diketik dengan mesin ketik manual dan kemudian dijilid. Tempat penjilidannya di Percetakan Kejambon Kota Tegal yang letaknya cukup jauh dari desa saya, desa Jatibogor. Waktu itu, tempat untuk jilid tidak seperti sekarang ini yang bisa dilakukan di tempat-tempat fotokopi yang begitu banyak sekali, seperti jamur yang tumbuh subur di musim hujan
Tidak tersedia versi lain